KH. Cholil Bisri bin Bisri Mustofa Sang Singa Podium dari Rembang

KH. Cholil Bisri bin Bisri Mustofa Sang Singa Podium dari Rembang

TimelineNU.com
| Beliau adalah Almaghfurlah KH. Cholil Bisri bin Bisri Mustofa adalah Singa Podium NU dari Rembang. Abah dari Ketua Umum PBNU Terpilih KH. Yahya Cholil Tsaquf pada Muktamar ke-34 di Lampung dan Menteri Agama RI, Gus Yaqut Cholil Qoumas.

KH. M. Cholil Bisri lahir pada tanggal 12 Agustus 1942 M bertepatan tanggal 27 Rajab 1263 H di Desa Kasingan Kecamatan Rembang Jawa Tengah.117 Mbah Cholil adalah putra dari pasangan suami istri KH. Bisri Mustofa dan Nyai Hj. Ma’rufah binti KH. Cholil Harun. KH. M. Cholil Bisri adalah putra pertama dari delapan bersaudara, empat putra dan empat putri, yaitu: M. Cholil Bisri (1942 M), A. Mustofa Bisri (1943 M), M. Adib Bisri (1950 M), Faridah (1952 M), Najichah (1955 M), Labib (1956 M), Nihayah (1958 M), Atikah (1964 M) dari pasangan KH. Bisri Mustofa dan Nyai Hj. Ma’rufah.

KH. Cholil Bisri memulai pendidikanya dengan Sekolah, di SR (Sekolah Rakyat) 6 Kartioso. Di sekolah tersebut, beliau hanya menempuh waktu lima tahun, karena pada waktu itu, beliau langsung diterima di kelas dua dan tidak mau satu kelas dengan adiknya, Mustofa, yang pada saat bersamaan masuk kelas satu.

Selain menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (1954), Cholil juga sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (1954), kemudian melanjutkan di SMP Taman Siswa (1956) bersamaan dengan sekolah di Perguruan Islam (1956). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, (1957), Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (1960), Aliyah Darul Ulum Mekah (1962), dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Masa muda beliau yang pernah nyantri di Pondok Lirboyo bersama adik beliau, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang saat itu Lirboyo diasuh oleh Almaghfurlah KH. Marzuqi Dahlan dan Almaghfurlah KH. Mahrus Aly.

Ketika Cholil diminta oleh KH. Mahrus Ali dari Lirboyo dan KH. Ali Maksum Krapyak untuk nyantri di pesantrennya, beliau diminta memilih sendiri. kemudian memilih nyantri di kedua tempat itu.

Di tangan KH. Ali Maksum, beliau terasah tradisi menulisnya, karena setiap membuat kesalahan beliau diberi ganjaran. Salah satu ganjarannya, beliau disuruh menulis kitab tertentu dua kuras beserta artinya. Tradisi ini ikut membentuk tradisi menulis Kiai Cholil ketika dewasa.

Pada waktu KH. Bisri Mustofa wafat, proses kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin tetap seperti sedia kala, tanpa ada kendala yang secara serius mengganggu akibat ditinggal oleh pengasuhnya. Ini tidak terlepas dari upaya Kyai Bisri dalam hal mempersiapkan regenerasi kepemimpinan yang bisa meneruskan cita-cita dan harapan ia sepeninggalnya nanti. Sepeninggal Kyai Bisri Mustofa keberlangsungan kegiatan belajar mengajar menjadi tanggung jawab bersama antara KH. Cholil Bisri dan KH. A. Mustofa Bisri. Hal itu terlihat dari pembagian tugas antara keduanya dalam mengasuh pengajian rutin hari Selasa dan Jum’at. Di pesantren, KH. M. Cholil Bisri mengajar bandongan Alfiyah, Syarah Fath al-Muin, Jam’ul Jawami’, dan Ihya’ Ulumuddin.

Puteri-puteri penerus KH. M. Cholil Bisri adalah:

  1. Yahya  Cholil  Tsaquf  (1966)
  2. Ummi  Kultsum  Cholil  Zalith  (1968)
  3. Zainab  Cholil  Qutsumah  (1970)
  4. Yaqut  Cholil  Qoumas  (1975)
  5. Faizah  Cholil  Tsuqoibak  (1976)
  6. Bisri Cholil  Laquf  (1978)
  7. Hanis  Cholil  Barro’  (1982)
  8. M.  Zaim  Cholil Mumtaz (1991)

KH. Cholil Bisri bin Bisri Mustofa Sang Singa Podium dari Rembang

📸 Foto Almaghfurlah KH. Cholil Bisri saat beliau hadir di Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri pada  21-26 November 1999.

Kiprah di Organisasi

Di bidang organisasi, Kiai Cholil pernah menjadi Ketua GP Ansor Rembang, Ketua Partai NU Rembang (ketika NU menjadi partai sendiri pada 1971), Ketua DPC PPP (ketika NU fusi dengan PPP).
Mbah Cholil juga pernah menjadi A’wan dan Mustasyar PWNU Jawa Tengah, dan Ketua MPW PPP Jawa Tengah.

Keterlibatannya dalam PPP, pada 1982 ia diminta untuk menjadi anggota DPRD Tingkat I, tetapi Mbah Cholil menolak, karena ia berprinsip harus mengurus pesantren. Waktu itu, ia hanya mau di DPRD Tingkat II, seumur hidup. Terlebih lagi setelah ayahnya meninggal pada 1977, ia memegang tanggung jawab untuk menjadi pengasuh di Pesantren Raudhatut Thalibin sehingga ia hanya tertarik dalam politik lokal.

Di pesantren, Mbah Cholil mengajar banyak kitab diantaranya; bandongan Alfiyah, Syarah Fath al-Muin, Jam’ul Jawami’, dan Ihya’ Ulumuddin.

Ketika NU kembali ke Khittah pada 1984, Kiai Cholil ikut terlibat dalam pemulihan Khittah NU. Dalam Muktamar NU ke-27 (1984), yang merumuskan Khittah NU, Kiai Cholil Bisri menjadi Ketua Panitia Perumus di Komisi Program.

Kiai Cholil Bisri pada 1992 menjadi anggota DPR RI dari PPP.

Ketika PKB dideklarasikan pada 23 Juni 1998, Kiai Cholil Bisri menjadi salah satu tokoh penting. Ia menjadi Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB, dengan Ketua Dewan Syuro KH Ma’ruf Amien dan Ketua Dewan Tanfdiziyah Matori Abdul Djalil. Keterlibatannya dalam PKB mengantarkannya menjadi anggota DPR dari PKB, bahkan sampai menjadi Wakil Ketua MPR.

Meskipun menjadi politisi, kekiaian Kiai Cholil Bisri tidak luntur. Ia di Rembang tetap mengajar ngaji dan menjadi pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin sampai akhir hayatnya. Mbah Cholil sangat menyukai kalimat-kalimat hikmah dari Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam al-Hikam, yang terkenal itu.
Mbah Cholil juga dikenal sebagai seorang penulis. Tulisan yang telah diterbitkan adalah Kami Bukan Kuda Tunggang dan Ketika Biru Langit.

KH. Cholil Bisri bin Bisri Mustofa wafat dalam usia 63 tahun tepatnya tangal 16 Februari 1977 ketika Bangsa Indonesia sibuk menghadapi Pemilu 1977. 

(Dari berbagai sumber)

0 Komentar

Cloud Hosting Indonesia
Cloud Hosting Indonesia
Cloud Hosting Indonesia