Alissa Wahid: Jangan Jadikan Gus Dur Sekadar Jargon di Muktamar NU, Teladani Pemikiran dan Lakunya

Alissa Wahid: Jangan Jadikan Gus Dur Sekadar Jargon di Muktamar NU, Teladani Pemikiran dan Lakunya

TIMELINENU.COM, JAKARTA
– Putri sulung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, menyampaikan pesan dan harapan mendalam menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ia menekankan bahwa keberhasilan Muktamar bukan hanya soal siapa yang terpilih, melainkan bagaimana proses tersebut mencerminkan integritas organisasi.

Dikutip dari laporan VIVA.co.id, Alissa berharap Muktamar dapat berlangsung dengan demokratis untuk menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa PBNU ke arah yang lebih baik dan menjawab tantangan zaman.

"Harapan saya bagi Muktamar NU besok adalah proses yang berjalan dengan baik untuk menghasilkan kepemimpinan yang baik. Itu harapan utama saya," ujar Alissa Wahid, Minggu (9/8/2026).

Fokus pada Substansi dan Peta Jalan NU 2050

Alissa menjelaskan bahwa materi substantif untuk Muktamar sebenarnya telah matang, merujuk pada hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Ploso. Salah satu agenda besar yang dinantikan adalah peluncuran Peta Jalan NU 2050 serta pembenahan tata kelola organisasi.

Namun, ia mengingatkan agar persoalan-persoalan internal yang sempat muncul di masa lalu menjadi pelajaran berharga. "Persoalan-persoalan yang kemarin muncul harus menjadi pelajaran," tegasnya.

Gus Dur Bukan Sekadar Jargon

Salah satu poin paling tajam dalam pernyataan Alissa adalah kritik terhadap penggunaan nama Gus Dur yang sering kali hanya dijadikan alat branding tanpa esensi. Menurutnya, meneladani Gus Dur berarti mempraktikkan nilai-nilai yang beliau perjuangkan.

"Bagi saya sudah tidak relevan lagi menggunakan Gus Dur sebagai jargon. Yang paling penting justru teladan dari Gus Dur itu adalah pemikiran dan laku beliau," tutur Alissa.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa meneladani Gus Dur berarti memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan dan kezaliman. Alissa mendesak agar NU kembali memperkuat keberpihakannya terhadap masyarakat kecil (wong cilik), sebagaimana yang selalu dicontohkan oleh sang ayah semasa hidupnya.

Muktamar ke-35 NU di Jombang diharapkan menjadi momentum bagi organisasi untuk kembali pada jati diri sebagai pembela kaum mustad’afin (kaum yang terlemahkan) dan penjaga moral bangsa. (MHS)

0 Komentar