Gus Rozin Tawarkan Gagasan "Poros Tengah" dan Kemandirian Jamaah Menuju Kursi Ketua Umum PBNU
Langkah ini diambil Gus Rozin bukan sekadar untuk mencari dukungan, melainkan untuk menyerap aspirasi dan menawarkan visi strategis bagi NU dalam memasuki abad keduanya. Bagi Gus Rozin, pencalonan Ketua Umum PBNU harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan mencari solusi atas berbagai tantangan organisasi.
Dikutip dari laporan Merdeka.com, Gus Rozin membawa tiga gagasan utama dalam safarinya: Poros Tengah, NU sebagai rumah besar masyarakat sipil, dan penguatan kedaulatan yang bertumpu pada jemaah.
Poros Tengah: Mengakhiri Polarisasi Internal
Salah satu poin krusial yang ditawarkan Gus Rozin adalah pembentukan "Poros Tengah". Gagasan ini muncul sebagai respons atas dinamika dan ketegangan yang sempat berkembang di internal NU belakangan ini. Ia menekankan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh dibiarkan menjadi polarisasi yang merusak ukhuwah.
"Poros tengah bukan poros untuk berhadapan dengan siapa pun. Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan mengembalikan NU kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu ukhuwah Nahdliyah dan keberlanjutan khidmah jam'iyyah," ujar Gus Rozin dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Ia menegaskan bahwa poros tengah harus menjadi ruang bersama untuk menyatukan fragmentasi dengan menjadikan tradisi keulamaan dan kemaslahatan jemaah sebagai titik temu.
NU Sebagai Sahabat Kritis Pemerintah
Gus Rozin juga mengusulkan penguatan posisi NU sebagai masyarakat sipil keagamaan. Menurutnya, meski NU memiliki hubungan dekat dengan pemerintah, organisasi tidak boleh kehilangan akar sosial dan daya kritisnya.
"NU harus menjadi sahabat pemerintah. Sahabat bisa mendukung, tetapi sahabat juga harus berani mengingatkan ketika ada kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat," tegasnya.
Ia berharap peran kader NU di pemerintahan justru memperkuat fungsi advokasi, pendidikan publik, dan pengawasan sosial oleh organisasi di tingkat akar rumput.
Kemandirian Berbasis Kekuatan Jemaah
Gagasan ketiga yang menjadi perhatian serius adalah membangun kemandirian organisasi yang dimulai dari bawah. Gus Rozin mengingatkan bahwa karakter NU adalah "jemaah yang mengorganisir diri", bukan sekadar struktur yang mencari massa.
"Di NU jemaahnya dulu ada, lalu jam'iyyahnya terbangun. Karena itu, kalau kita ingin membangun NU yang mandiri, kita harus kembali kepada kekuatan Jemaah," katanya. Kemandirian ini mencakup pembiayaan, pengelolaan aset, hingga kemampuan mengambil keputusan secara independen.
Tiga Arah Besar: Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat
Menjelang Muktamar ke-35, Gus Rozin merangkum visinya ke dalam tiga arah transformasi:
- Berdaulat: Mandiri secara ekonomi, teknologi, dan pengambilan keputusan.
- Bermartabat: Menjaga marwah ulama, pesantren, dan integritas kepemimpinan.
- Bermanfaat: Khidmat NU harus dirasakan nyata di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi oleh jemaah.
Bagi Gus Rozin, Muktamar bukan sekadar ajang memilih pemimpin, melainkan penentu bagaimana NU melangkah di abad kedua untuk menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan kemanusiaan.
Sumber: Dikutip dari laporan Merdeka.com, edisi Senin, 10 Agustus 2026.

0 Komentar