Prof. Mohammad Nuh: Menyatukan Teknologi Prancis, Pendidikan Karakter, dan Khidmat di PBNU

Prof. Mohammad Nuh: Menyatukan Teknologi Prancis, Pendidikan Karakter, dan Khidmat di PBNU


TIMELINENU.COM, SURABAYA
– Bayangkan seorang ilmuwan yang menghabiskan masa mudanya di laboratorium teknik elektro tercanggih di Prancis, namun hatinya justru semakin terpaut pada nilai-nilai spiritualitas Islam. Sosok itu adalah Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA. Seorang teknokrat yang berhasil membuktikan bahwa teknologi dan iman bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Prof. Nuh, yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Komunikasi dan Informatika, dikenal sebagai jembatan antara dunia sains modern dan nilai-nilai pesantren. Bagi beliau, moderasi beragama adalah kunci menjawab tantangan zaman.

"Teknologi bisa membawa kita ke mana saja, tapi tanpa spiritualitas, kita bisa kehilangan arah," ungkap Prof. Nuh dalam sebuah kesempatan.

Dari Lyon ke Mimbar Akademik

Perjalanan intelektualnya bermula di Institut National des Sciences Appliquées (INSA) Lyon, Prancis. Di sana, ia mendalami teknik elektro yang sangat rasional. Namun, gemerlap Eropa tak melunturkan identitas santrinya. Sepulangnya ke Indonesia, ia mengabdi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hingga dipercaya menjabat sebagai Rektor.

Sebagai Menkominfo (2007-2009), ia menjadi pelopor literasi digital. Ia menekankan bahwa di dunia digital yang tanpa batas, generasi muda membutuhkan panduan moral agar tidak tersesat dalam arus informasi.

Pendidikan Karakter: Warisan bagi Bangsa

Saat menjabat sebagai Mendikbud (2009-2014), fokus utamanya adalah pendidikan karakter. Ia percaya anak Indonesia tidak boleh hanya pintar secara akademis, tapi juga harus kokoh secara moral. Program pendidikan vokasi dan penguatan budaya menjadi pilar yang ia perjuangkan untuk menciptakan lulusan yang siap kerja sekaligus beretika.

"Teknologi itu alat, bukan tujuan. Jangan sampai anak-anak kita lupa akan nilai-nilai budaya dan agama," tegasnya. Kesantunan dan kerendahhatiannya saat turun ke lapangan menjadikannya sosok menteri yang dicintai banyak kalangan.

Wakaf dan Khidmat di Nahdlatul Ulama

Kini, di masa matangnya, Prof. Nuh aktif menggerakkan ekonomi umat melalui peranannya sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI). Ia mentransformasi persepsi wakaf dari sekadar ritual menjadi instrumen ekonomi syariah yang produktif.

"Beruntunglah kita, hati dan langkah kita dipertautkan oleh wakaf. Di wakaflah kita dapat menutup defisit amal kebaikan dengan rentang batas umur manusia yang terbatas," tuturnya puitis.

Sebagai tokoh di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), ia juga gigih menyuarakan Islam Nusantara—Islam yang damai, toleran, dan menghargai budaya lokal. Baginya, Islam di Indonesia memiliki cara unik untuk menjalankan syariat tanpa harus meninggalkan tradisi luhur bangsa.

Prof. Mohammad Nuh adalah bukti nyata bahwa seorang Muslim bisa menjadi teknokrat kelas dunia tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya. Pesannya bagi generasi muda Nahdliyin sangat jelas: Jadikan ilmu dunia dan agama sebagai landasan untuk berkontribusi bagi kemaslahatan umat.


Disadur dari berbagai sumber oleh Redaksi TimelineNU.


0 Komentar